ujub
‘UJUB ( BANGGA DIRI)
I.
PENDAHULUAN
Secara naluri, manusia
memiliki kecenderungan menonjolkan kelebihannya di hadapan orang lain.
Kecenderungan ini lahir dari watak bangga diri. Dalam hal ini, ada unsur
kesamaan antara manusia dengan beberapa jenis binatang. Burung merak misalnya,
dia kerap memamerkan kelebihan bulu-bulunya untuk menarik simpati lawan
jenisnya.Setiap manusia diberikan berbagai karunia dan kelebihan yang bisa
menjadi potensi untuk melahirkan sifat ujub. Ada kelebihan yang sifatnya alami
dimana manusia tidak memiliki peran sama sekali dalam memperolehnya semisal
kecantikan dan ketampanan. Ada kelebihan yang merupakan pengembangan potensi
manusia. Apapun kelebihan itu, harus dikembalikan kepada Allah dan
mensyukurinya. Tak layak manusia membanggakan diri.
Sifat bangga diri (‘ujub)
adalah sifat-sifat mazmumah yang perlu kita jauhi. Tanpa kita sadari bahawa
apabila sifat ini telah bertapak dalam hati kita akan menyebabkan hati kita
berpenyakit dan akan merusak amalan kita kepada Allah SWT. Sifat kekaguman dan
membangga-banggakan diri dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan terhadap
orang lain. Sifat ini adalah salah satu penyakit hati yang sangat mencelakakan
dan sulit dihindari. Dalam al-Qur’an sudah tertera larangan dan ancaman serta
bahaya yang akan ditimbulkan dari sifat takabur ini. Jika seseorang sudah
melekat pada sifat ini, maka segeralah mungkin untuk mengobatinya dan
menghindarinya, karena sifat ini sangat merugikan diri sendiri maupun orang
lain serta merugikan di dunia dan di akhirat.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian Kebanggaan (‘Ujub)
?
B.
Apa bahaya yang diakibatkan
oleh sikap ‘Ujub ?
C.
Bagaimana cara menunjukkan sikap membenci ‘Ujub ?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kebanggaan (‘Ujub)
‘Ujub artinya
merasa bangga pada diri sendiri, merasa heran terhadap diri sendiri dengan
sebab adanya satu dan lain hal. Diri sendiri yang dimaksudkan disini ialah
mengenai pribadinya, golongannya, kelompoknya atau apa saja yang dianggap erat
hubungannya dengan dirinya sendiri itu.
‘Ujub adalah sifat yang tercela, sebagaimana Firman Allah dalam QS. At-Taubah :
25
ôt
“... dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu
diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang
banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun”
(QS. At-Taubah: 25)
Allah Ta’ala
menyebutkan ini sebagai suatu pengingkaran, yakni tidak menyetujui sikap kaum
muslimin yang membanggakan dirinya, merasa heran terhadap jumlahnya yang
banyak, yang dikiranya dengan itu mereka pasti memperoleh kemenangan di medan
perang. Tapi kenyataannya tidaklah demikian.
Allah
Ta’ala berfirman lagi dalam QS. al-Hasyr :2
“... mereka itu menyangka, bahwa benteng-benteng mereka dapat
mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka
(hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. ”
Dalam ayat ini Allah Ta’ala mencemoohkan
orang-orang kafir yang membanggakan keadaan perbentengannya, heran terhadap
kekuatan yang telah mereka susun, sehingga menyangka tidak akan dapat runtuh
sama sekali. Kenyataannya tidaklah demikian, mereka akhirnya jatuh berantakan.
Rasulullah saw. Bersabda :

” Ada tiga hal yang merusakkan atau mencelakakan yaitu : rasa
bakhil yang dita’ati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap
dirinya.”
Ketahuilah bahwa sifat ‘ujub bermuara dari merasa dirinya sempurna.
Ada delapan perkara yang dapat menimbulkan sikap ‘ujub, yaitu :
1.
‘Ujub dengan badan
Yakni menyangkut kecantikan atau ketampanan, tubuhnya yang indah,
kekuatannya, keindahan suaranya.
2.
‘Ujub dengan ketangguhan dan kekuatan
Ini sebagaimana dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an tentang kaum ‘Ad
ketika mereka berkata :

"Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari
kami?"(QS.Fushshilat :15)
Ayat ini menjelaskan mengenai sikap kaum ‘Ad yang sangat buruk.
Mereka sangat menyombongkan diri di muka bumi. Tidakkah mereka sadar bahwa
kalau Allah menghendaki, Dia dapat menjadikan mereka lemah sebagaimana sekian
kaum lainnya, dan disamping itu apakah mereka tidak melihat yakni mengetahui
dan menyadari bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah yang lebih besar.
Namun itu telah menjadi sifat dasar mereka terhadap ayat-ayat Kami, yakni bahwa
mereka senantiasa mengingkarinya.
3.
‘Ujub dengan kepandaian dan kecerdasan
Akibat dari hal ini adalah ia ingin pendapatnya selalu dipakai,
tidak suka bermusyawarah, menganggap orang lain yang berselisih pendapat
dengannya adalah orang bodoh.
4.
‘Ujub atas garis keturunan (nasab) yang mulia
Sebagian
orang yang memiliki nasab mulia mengira bahwa ia akan memperoleh keselamatan
oleh sebab kemuliaan nasabnya dan keselamatan nenek moyangnya.
5.
‘Ujub dengan nasab pembesar negara atau pejabat-pejabat sebawahnya,
bukan dengan nasab ahli ilmu agama.Misalnya seseorang yang mengaku bahwa
dirinya adalah anak jenderal, cucu menteri dan sebagainya.
6.
‘Ujub dengan banyaknya anak,
pelayan, pengikut, keluarga, dan kerabat
Sebagaimana dikatakan oleh kaum Mu’minin pada waktu perang Hunain,
karena meng’ujubkan jumlah balatentaranya yang amat banyak itu, sehingga mereka
berkata : ” Nah, hari ini kita tidak akan terkalahkan lagi oleh kaum
musyrikin”. Tetapi karena ‘ujub, Allah Ta’ala tidak memberikan kemenangan
kepada mereka itu dan bahkan sebaliknya.
7.
‘Ujub dengan harta
Mengagumi
harta benda yang banyak adalah serupa dengan orang kafir, ketika ia berkata,
sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 34
"Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan
pengikut-pengikutku lebih kuat".(QS. Al-Kahfi :34)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa dengan perkataan demikian, dia
(orang kafir) mengisyaratkan bahwa seseorang dapat hidup bahagia dan jaya tanpa
beriman kepada Tuhan. Dia beranggapan bahwa segala kejayaan yang dimilikinya
dan kenikmatan yang diperolehnya semata-mata berkat kemampuannya dirinya. Tiada
Tuhan yang dirasanya turut membantu dan memberi rezeki dan kenikmatan
kepadanya.
8.
‘Ujub dengan pendapatnya
yang salah.
Rasulullah saw. Telah mengabarkan bahwa umat-umat terdahulu juga
mengalami kehancuran karena kekaguman terhadap pendapat-pendapat yang salah.
Yakni bahwa mereka terpecah belah menjadi golongan-golongan yang sangat banyak.
Masing-masing golongan mengagumi pendapat sendiri. Dan masing-masing golongan
merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
B.
Bahaya yang diakibatkan oleh
sikap ‘Ujub
Sebagaimana riya' merupakan syirik kecil, demikian pula ‘ujub
merupakan syirik kecil.
Karenanya ujub merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Bahaya ‘ujub itu
banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Sesungguhnya ‘ujub itu mendorong kepada kesombongan. Karena ‘ujub
memang merupakan salah satu sebab yang menimbulkan kesombongan. Jadi, dari
sifat ‘ujub itulah lahir kesombongan. Dan kesombongan itu sendiri jelas banyak
sekali bahayanya yang menyangkut hubungan dengan sesama manusia.
2.
Adapun menyangkut hubungan dengan Allah, ‘ujub itu menyebabkan
seseorang melupakan dan mengabaikan dosa-dosanya dimasa lalu.
3.
Sedangkan yang menyangkut amal saleh, maka ia menganggapnya sebagai
suatu amalan yang besar.
4.
Sifat ‘ujub ini akan menyesatkannya lebih jauh hingga ia tak
segan-segan memuji diri sendiri, menyanjung dan menganggapnya suci.
5.
Orang yang selalu membanggakan diri tidak mau berdiskusi atau
bermusyawarah dalam suatu masalah. Ia juga enggan bertanya mengenai hal yang
tidak diketahui kepada orang yang lebih mengetahui.
6.
Seseorang yang’ujub itu akan mengutamakan dirinya sendiri, tidak
perlu lagi memikirkan kepentingan orang lain.
C.
Cara menunjukkan sikap membenci ‘Ujub
Termasuk hal
yang tidak terpuji, jika orang yang berakal mengagumi ilmu dan akalnya,
sehingga ia merasa heran kalau Allah memberikan kefakiran kepadanya dan
memberikan kekayaan kepada sebagian orang-orang yang bodoh. Seharusnya orang
yang berakal itu selamanya kagum terhadap keutamaan atau kelebihan Allah dan
kedermawanan-Nya. Karena Allah telah memberi dia ilmu dan akal.
Oleh karena itu
jangan sampai kita terjerumus dalam kebiasaan yang tidak baik itu. Hendaklah
kita memaklumi bahwa perbuatan yang demikian tadi akan berakibat menurunkan
derajat dari pandangan orang lain dan akan mengakibatkan murka Allah.
Memuji diri
sendiri itu tidak menaikkan derajat dalam pandangan orang lain, maka hendaklah
kita renungkan bagaimana pandangan kita ketika ada teman yang memuji-muji
kebaikannya sendiri, membanggakan kedudukannya dan memamerkan kekayaannya.
Ketika itu pastilah hati kita menolak untuk mengetahui apa yang diceritakan
oleh teman kita itu, dan di dalam hati kecil kita akan menyatakan bahwa
perbuatan teman kita itu merupakan suatu hal yang keterlaluan sehingga setelah
kita berpisah dengannya, kemungkinan kita pun akan menaruh kebencian kepadanya.
Jika
kita tidak senang mendengar orang lain memuji dirinya sendiri, maka orang lain
pun merasa benci ketika mendengar kita memuji terhadap diri sendiri. Allah
Ta’ala berfirman :
”Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling
mengetahui tentang orang yang bertakwa.”(QS. An-Najm :32)
Ayat
ini menunjukkan kelemahan manusia dan potensi dosa dan kekurangan dirinya.
Jadi, janganlah kalian merasa suci dengan mengaku-ngaku bertakwa dan istiqamah.
Hanya Allah semata yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Dengan
demikian, semua orang harus berhenti menganggap dirinya suci dan hendaklah
selalu meminta ampun kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Maha Kuasa.
Sedangkan cara menanggulangi Penyakit 'ujub antara lain:
1. Selalu mengingat akan hakikat diri
Orang yang
kagum pada diri sendiri hendaknya sadar bahwa nyawa yang ada dalam tubuhnya
semata-mata anugerah Allah. Andaikan nyawa tersebut meninggalkan badannya, maka
badan tidak ada harganya lagi sama sekali. Dia harus sadar bahwa tubuhnya
pertama-tama dibuat dari tanah yang diinjak-injak manusia dan binatang,
kemudian dari air mani yang hina, yang setiap orang merasa jijik melihatnya,
lalu kembali lagi ke tanah dan menjadi bangkai yang berbau busuk dan setiap
orang tidak suka mencium baunya.
2. Selalu sadar akan hakikat dunia dan akherat
Hendaklah seseorang selalu sadar bahwa dunia
adalah tempat menanam kebahagiaan kehidupan akherat. Dia harus sadar bahwa
sekalipun umurnya panjang, namun tetap akan mati, kemudian hidup di sebuah
kampung abadi yaitu akhirat. Kesadaran seperti ini akan mendorong seseorang
untuk meluruskan akhlaknya yang bengkok, sebelum nafasnya meninggalkan jasadnya
dan sebelum hilang kesempatan untuk bertaubat.
3. Selalu mengingat nikmat Allah
Dengan kesadaran seperti ini, seseorang akan
merasa lemah dan merasa butuh kepada Allah, sehingga dia akan membersihkan diri
dari penyakit kagum diri dan berusaha terhindar darinya.
4. Selalu ingat tentang kematian dan kehidupan
setelah mati
Kesadaran seperti ini akan mendorong seseorang
meninggalkan perasaan kagum diri karena takut akan berbagai kesengsaraan hidup
setelah mati.
5. Tidak berkawan dengan orang yang kagum diri
Sebaiknya, berkawanlah dengan orang-orang yang
tawadlu’ dan memahami status dirinya. Hal semacam itu sangat membantu seseorang
untuk meninggalkan perangai buruk kagum diri.
6.
Memperhatikan
keadaan orang yang sedang sakit, bahkan keadaan orang yang meninggal dunia,
ziarah kubur dan merenungkan keadaan ahli kubur
Cara semacam ini akan mendorong seseorang untuk
meninggalkan perasaan kagum diri dan panyakit hati lainnya.
7. Selalu bermuhasabah (Introspeksi diri)
Dengan demikian, mudah dideteksi gejala awal
dari segala bentuk penyakit hati, terutama penyakit kagum diri. Dengan
demikian, penyakit ini akan mudah diobati.
8. Selalu memohon bantuan dari Allah
Dengan cara berdoa dan senantiasa memohon
perlindungan dari-Nya agar terhindar dari penyakit kagum diri dan tidak
terjerumus ke dalamnya.
IV.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
‘Ujub artinya
merasa bangga pada diri sendiri, merasa heran terhadap diri sendiri dengan
sebab adanya satu dan lain hal. Ada delapan perkara yang dapat menimbulkan
sikap ‘ujub, yaitu : ‘Ujub dengan badan,‘Ujub dengan ketangguhan dan kekuatan,
‘Ujub dengan kepandaian dan kecerdasan, ‘Ujub atas garis keturunan (nasab) yang
mulia, ‘Ujub dengan nasab pembesar
negara atau pejabat-pejabat sebawahnya, bukan dengan nasab ahli ilmu agama, ‘Ujub
dengan banyaknya anak, pelayan, pengikut, keluarga, dan kerabat, ‘Ujub dengan
harta, ‘Ujub dengan pendapatnya yang salah.
Bahaya ‘ujub itu banyak
sekali, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Sesungguhnya ‘ujub itu mendorong kepada kesombongan
2.
Adapun menyangkut hubungan dengan Allah, ‘ujub itu menyebabkan
seseorang melupakan dan mengabaikan dosa-dosanya dimasa lalu.
3.
Sedangkan yang menyangkut amal saleh, maka ia menganggapnya sebagai
suatu amalan yang besar.
4.
Sifat ‘ujub ini akan menyesatkannya lebih jauh hingga ia tak
segan-segan memuji diri sendiri, menyanjung dan menganggapnya suci.
5.
Orang yang selalu membanggakan diri tidak mau berdiskusi atau
bermusyawarah dalam suatu masalah
6.
Seseorang yang’ujub itu akan mengutamakan dirinya sendiri, tidak
perlu lagi memikirkan kepentingan orang lain.
Jika kamu ingin
mengetahui bahwa memuji diri sendiri itu tidak menaikkan derajat dalam pandangan
orang lain, maka cobalah kamu renungkan bagaimana pandanganmu ketika temanmu
memuji-muji kebaikannya sendiri, membanggakan kedudukannya dan memamerkan
kekayaannya. Jika kamu tidak senang mendengar orang lain memuji dirinya
sendiri, maka orang lain pun merasa benci ketika mendengar pujianmu terhadap
dirimu sendiri.
B.
Kritik dan Saran
Demikianlah pembuatan dan penyampaian makalah
tentang ‘Ujub. Tentunya dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan
kekurangtelitian. Olehkarena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
butuhkan demi perbaikan makalah ini dan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi semua mahasiswa pada umumnya. Amiiin.