Rabu, 12 Juni 2013

ujub


‘UJUB ( BANGGA DIRI)

I.     PENDAHULUAN

Secara naluri, manusia memiliki kecenderungan menonjolkan kelebihannya di hadapan orang lain. Kecenderungan ini lahir dari watak bangga diri. Dalam hal ini, ada unsur kesamaan antara manusia dengan beberapa jenis binatang. Burung merak misalnya, dia kerap memamerkan kelebihan bulu-bulunya untuk menarik simpati lawan jenisnya.Setiap manusia diberikan berbagai karunia dan kelebihan yang bisa menjadi potensi untuk melahirkan sifat ujub. Ada kelebihan yang sifatnya alami dimana manusia tidak memiliki peran sama sekali dalam memperolehnya semisal kecantikan dan ketampanan. Ada kelebihan yang merupakan pengembangan potensi manusia. Apapun kelebihan itu, harus dikembalikan kepada Allah dan mensyukurinya. Tak layak manusia membanggakan diri.

Sifat bangga diri (‘ujub) adalah sifat-sifat mazmumah yang perlu kita jauhi. Tanpa kita sadari bahawa apabila sifat ini telah bertapak dalam hati kita akan menyebabkan hati kita berpenyakit dan akan merusak amalan kita kepada Allah SWT. Sifat kekaguman dan membangga-banggakan diri dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan terhadap orang lain. Sifat ini adalah salah satu penyakit hati yang sangat mencelakakan dan sulit dihindari. Dalam al-Qur’an sudah tertera larangan dan ancaman serta bahaya yang akan ditimbulkan dari sifat takabur ini. Jika seseorang sudah melekat pada sifat ini, maka segeralah mungkin untuk mengobatinya dan menghindarinya, karena sifat ini sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta merugikan di dunia dan di akhirat.

II.     RUMUSAN MASALAH

A.   Apa pengertian Kebanggaan (‘Ujub) ?

B.   Apa bahaya yang diakibatkan oleh sikap ‘Ujub ?

C.  Bagaimana cara menunjukkan sikap membenci ‘Ujub ?

III.     PEMBAHASAN

A.  Pengertian Kebanggaan (‘Ujub)

‘Ujub artinya merasa bangga pada diri sendiri, merasa heran terhadap diri sendiri dengan sebab adanya satu dan lain hal. Diri sendiri yang dimaksudkan disini ialah mengenai pribadinya, golongannya, kelompoknya atau apa saja yang dianggap erat hubungannya dengan dirinya sendiri itu.[1] ‘Ujub adalah sifat yang tercela, sebagaimana Firman Allah dalam QS. At-Taubah : 25

ôt                                                                                       

                                                                                     

“... dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun” (QS. At-Taubah: 25) [2]

 

Allah Ta’ala menyebutkan ini sebagai suatu pengingkaran, yakni tidak menyetujui sikap kaum muslimin yang membanggakan dirinya, merasa heran terhadap jumlahnya yang banyak, yang dikiranya dengan itu mereka pasti memperoleh kemenangan di medan perang. Tapi kenyataannya tidaklah demikian.[3]

Allah Ta’ala berfirman lagi dalam QS. al-Hasyr :2

  

 

 

“... mereka itu  menyangka, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. ” [4]

 

     Dalam ayat ini Allah Ta’ala mencemoohkan orang-orang kafir yang membanggakan keadaan perbentengannya, heran terhadap kekuatan yang telah mereka susun, sehingga menyangka tidak akan dapat runtuh sama sekali. Kenyataannya tidaklah demikian, mereka akhirnya jatuh berantakan.[5]

Rasulullah saw. Bersabda :

 

 

” Ada tiga hal yang merusakkan atau mencelakakan yaitu : rasa bakhil yang dita’ati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya.”

 

Ketahuilah bahwa sifat ‘ujub bermuara dari merasa dirinya sempurna. Ada delapan perkara yang dapat menimbulkan sikap ‘ujub, yaitu :

1.    ‘Ujub dengan badan

Yakni menyangkut kecantikan atau ketampanan, tubuhnya yang indah, kekuatannya, keindahan suaranya.

2.    ‘Ujub dengan ketangguhan dan kekuatan

Ini sebagaimana dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an tentang kaum ‘Ad ketika mereka berkata :

 

 

 

 

"Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?"(QS.Fushshilat :15)[6]

 

Ayat ini menjelaskan mengenai sikap kaum ‘Ad yang sangat buruk. Mereka sangat menyombongkan diri di muka bumi. Tidakkah mereka sadar bahwa kalau Allah menghendaki, Dia dapat menjadikan mereka lemah sebagaimana sekian kaum lainnya, dan disamping itu apakah mereka tidak melihat yakni mengetahui dan menyadari bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah yang lebih besar.[7] Namun itu telah menjadi sifat dasar mereka terhadap ayat-ayat Kami, yakni bahwa mereka senantiasa mengingkarinya.

3.    ‘Ujub dengan kepandaian dan kecerdasan

Akibat dari hal ini adalah ia ingin pendapatnya selalu dipakai, tidak suka bermusyawarah, menganggap orang lain yang berselisih pendapat dengannya adalah orang bodoh.[8]

4.    ‘Ujub atas garis keturunan (nasab) yang mulia

Sebagian orang yang memiliki nasab mulia mengira bahwa ia akan memperoleh keselamatan oleh sebab kemuliaan nasabnya dan keselamatan nenek moyangnya.

5.    ‘Ujub dengan nasab pembesar negara atau pejabat-pejabat sebawahnya, bukan dengan nasab ahli ilmu agama.Misalnya seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah anak jenderal, cucu menteri dan sebagainya. 

6.     ‘Ujub dengan banyaknya anak, pelayan, pengikut, keluarga, dan kerabat

Sebagaimana dikatakan oleh kaum Mu’minin pada waktu perang Hunain, karena meng’ujubkan jumlah balatentaranya yang amat banyak itu, sehingga mereka berkata : ” Nah, hari ini kita tidak akan terkalahkan lagi oleh kaum musyrikin”. Tetapi karena ‘ujub, Allah Ta’ala tidak memberikan kemenangan kepada mereka itu dan bahkan sebaliknya.  

7.    ‘Ujub dengan harta

Mengagumi harta benda yang banyak adalah serupa dengan orang kafir, ketika ia berkata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi : 34[9]

 

 

 

"Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".(QS. Al-Kahfi :34)

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa dengan perkataan demikian, dia (orang kafir) mengisyaratkan bahwa seseorang dapat hidup bahagia dan jaya tanpa beriman kepada Tuhan. Dia beranggapan bahwa segala kejayaan yang dimilikinya dan kenikmatan yang diperolehnya semata-mata berkat kemampuannya dirinya. Tiada Tuhan yang dirasanya turut membantu dan memberi rezeki dan kenikmatan kepadanya. [10]

8.     ‘Ujub dengan pendapatnya yang salah.[11]

Rasulullah saw. Telah mengabarkan bahwa umat-umat terdahulu juga mengalami kehancuran karena kekaguman terhadap pendapat-pendapat yang salah. Yakni bahwa mereka terpecah belah menjadi golongan-golongan yang sangat banyak. Masing-masing golongan mengagumi pendapat sendiri. Dan masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

 

 

B.   Bahaya yang diakibatkan oleh sikap ‘Ujub

Sebagaimana riya' merupakan syirik kecil, demikian pula ‘ujub merupakan syirik kecil.
Karenanya ujub merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Bahaya ‘ujub itu banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut :

1.    Sesungguhnya ‘ujub itu mendorong kepada kesombongan. Karena ‘ujub memang merupakan salah satu sebab yang menimbulkan kesombongan. Jadi, dari sifat ‘ujub itulah lahir kesombongan. Dan kesombongan itu sendiri jelas banyak sekali bahayanya yang menyangkut hubungan dengan sesama manusia.

2.    Adapun menyangkut hubungan dengan Allah, ‘ujub itu menyebabkan seseorang melupakan dan mengabaikan dosa-dosanya dimasa lalu.

3.    Sedangkan yang menyangkut amal saleh, maka ia menganggapnya sebagai suatu amalan yang besar.

4.    Sifat ‘ujub ini akan menyesatkannya lebih jauh hingga ia tak segan-segan memuji diri sendiri, menyanjung dan menganggapnya suci.[12]

5.    Orang yang selalu membanggakan diri tidak mau berdiskusi atau bermusyawarah dalam suatu masalah. Ia juga enggan bertanya mengenai hal yang tidak diketahui kepada orang yang lebih mengetahui. [13]

6.    Seseorang yang’ujub itu akan mengutamakan dirinya sendiri, tidak perlu lagi memikirkan kepentingan orang lain.[14]

C.  Cara menunjukkan sikap membenci ‘Ujub

Termasuk hal yang tidak terpuji, jika orang yang berakal mengagumi ilmu dan akalnya, sehingga ia merasa heran kalau Allah memberikan kefakiran kepadanya dan memberikan kekayaan kepada sebagian orang-orang yang bodoh. Seharusnya orang yang berakal itu selamanya kagum terhadap keutamaan atau kelebihan Allah dan kedermawanan-Nya. Karena Allah telah memberi dia ilmu dan akal.

Oleh karena itu jangan sampai kita terjerumus dalam kebiasaan yang tidak baik itu. Hendaklah kita memaklumi bahwa perbuatan yang demikian tadi akan berakibat menurunkan derajat dari pandangan orang lain dan akan mengakibatkan murka Allah.

Memuji diri sendiri itu tidak menaikkan derajat dalam pandangan orang lain, maka hendaklah kita renungkan bagaimana pandangan kita ketika ada teman yang memuji-muji kebaikannya sendiri, membanggakan kedudukannya dan memamerkan kekayaannya. Ketika itu pastilah hati kita menolak untuk mengetahui apa yang diceritakan oleh teman kita itu, dan di dalam hati kecil kita akan menyatakan bahwa perbuatan teman kita itu merupakan suatu hal yang keterlaluan sehingga setelah kita berpisah dengannya, kemungkinan kita pun akan menaruh kebencian kepadanya. [15]

Jika kita tidak senang mendengar orang lain memuji dirinya sendiri, maka orang lain pun merasa benci ketika mendengar kita memuji terhadap diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman :

 

 

 

 

”Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”(QS. An-Najm :32)[16]

 

Ayat ini menunjukkan kelemahan manusia dan potensi dosa dan kekurangan dirinya. Jadi, janganlah kalian merasa suci dengan mengaku-ngaku bertakwa dan istiqamah. Hanya Allah semata yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Dengan demikian, semua orang harus berhenti menganggap dirinya suci dan hendaklah selalu meminta ampun kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Maha Kuasa. [17]

Sedangkan cara menanggulangi Penyakit 'ujub antara lain:[18]

1. Selalu mengingat akan hakikat diri

Orang yang kagum pada diri sendiri hendaknya sadar bahwa nyawa yang ada dalam tubuhnya semata-mata anugerah Allah. Andaikan nyawa tersebut meninggalkan badannya, maka badan tidak ada harganya lagi sama sekali. Dia harus sadar bahwa tubuhnya pertama-tama dibuat dari tanah yang diinjak-injak manusia dan binatang, kemudian dari air mani yang hina, yang setiap orang merasa jijik melihatnya, lalu kembali lagi ke tanah dan menjadi bangkai yang berbau busuk dan setiap orang tidak suka mencium baunya.

 

2. Selalu sadar akan hakikat dunia dan akherat

Hendaklah seseorang selalu sadar bahwa dunia adalah tempat menanam kebahagiaan kehidupan akherat. Dia harus sadar bahwa sekalipun umurnya panjang, namun tetap akan mati, kemudian hidup di sebuah kampung abadi yaitu akhirat. Kesadaran seperti ini akan mendorong seseorang untuk meluruskan akhlaknya yang bengkok, sebelum nafasnya meninggalkan jasadnya dan sebelum hilang kesempatan untuk bertaubat.

3. Selalu mengingat nikmat Allah

Dengan kesadaran seperti ini, seseorang akan merasa lemah dan merasa butuh kepada Allah, sehingga dia akan membersihkan diri dari penyakit kagum diri dan berusaha terhindar darinya.

4. Selalu ingat tentang kematian dan kehidupan setelah mati

Kesadaran seperti ini akan mendorong seseorang meninggalkan perasaan kagum diri karena takut akan berbagai kesengsaraan hidup setelah mati.

5. Tidak berkawan dengan orang yang kagum diri

Sebaiknya, berkawanlah dengan orang-orang yang tawadlu’ dan memahami status dirinya. Hal semacam itu sangat membantu seseorang untuk meninggalkan perangai buruk kagum diri.

6.    Memperhatikan keadaan orang yang sedang sakit, bahkan keadaan orang yang meninggal dunia, ziarah kubur dan merenungkan keadaan ahli kubur

Cara semacam ini akan mendorong seseorang untuk meninggalkan perasaan kagum diri dan panyakit hati lainnya.

7. Selalu bermuhasabah (Introspeksi diri)

Dengan demikian, mudah dideteksi gejala awal dari segala bentuk penyakit hati, terutama penyakit kagum diri. Dengan demikian, penyakit ini akan mudah diobati.

8. Selalu memohon bantuan dari Allah

Dengan cara berdoa dan senantiasa memohon perlindungan dari-Nya agar terhindar dari penyakit kagum diri dan tidak terjerumus ke dalamnya.

 

IV.     PENUTUP

A.  Kesimpulan

‘Ujub artinya merasa bangga pada diri sendiri, merasa heran terhadap diri sendiri dengan sebab adanya satu dan lain hal. Ada delapan perkara yang dapat menimbulkan sikap ‘ujub, yaitu : ‘Ujub dengan badan,‘Ujub dengan ketangguhan dan kekuatan, ‘Ujub dengan kepandaian dan kecerdasan, ‘Ujub atas garis keturunan (nasab) yang mulia,  ‘Ujub dengan nasab pembesar negara atau pejabat-pejabat sebawahnya, bukan dengan nasab ahli ilmu agama, ‘Ujub dengan banyaknya anak, pelayan, pengikut, keluarga, dan kerabat, ‘Ujub dengan harta, ‘Ujub dengan pendapatnya yang salah.

 Bahaya ‘ujub itu banyak sekali, diantaranya adalah sebagai berikut :

1.    Sesungguhnya ‘ujub itu mendorong kepada kesombongan

2.    Adapun menyangkut hubungan dengan Allah, ‘ujub itu menyebabkan seseorang melupakan dan mengabaikan dosa-dosanya dimasa lalu.

3.    Sedangkan yang menyangkut amal saleh, maka ia menganggapnya sebagai suatu amalan yang besar.

4.    Sifat ‘ujub ini akan menyesatkannya lebih jauh hingga ia tak segan-segan memuji diri sendiri, menyanjung dan menganggapnya suci.

5.    Orang yang selalu membanggakan diri tidak mau berdiskusi atau bermusyawarah dalam suatu masalah

6.    Seseorang yang’ujub itu akan mengutamakan dirinya sendiri, tidak perlu lagi memikirkan kepentingan orang lain.

Jika kamu ingin mengetahui bahwa memuji diri sendiri itu tidak menaikkan derajat dalam pandangan orang lain, maka cobalah kamu renungkan bagaimana pandanganmu ketika temanmu memuji-muji kebaikannya sendiri, membanggakan kedudukannya dan memamerkan kekayaannya. Jika kamu tidak senang mendengar orang lain memuji dirinya sendiri, maka orang lain pun merasa benci ketika mendengar pujianmu terhadap dirimu sendiri.

B.  Kritik dan Saran

Demikianlah pembuatan dan penyampaian makalah tentang ‘Ujub. Tentunya dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangtelitian. Olehkarena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi perbaikan makalah ini dan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi semua mahasiswa pada umumnya. Amiiin.

 

 

 

 

 

 



[1]Muhammad Jamaludin Al qasimi, Bimbingan untuk mencapai tingkat mu’min,(Bandung : CV. Diponegoro, 1994), hlm. 786

[2]Kementrian Agama RI , Al-Qur’an dan tafsirnya, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010), hlm. 88

[3] Kementrian Agama RI , Al-Qur’an dan tafsirnya, .....hlm. 90                               

[4] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar, ( Jakarta : Qisthi Press, 2008), hlm.311

[5]‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar, .....hlm. 311

[6]M.  Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002),hlm. 27

[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, .....hlm.31-32

[8] Sa’id Hawwa,Tazkiyatun nafs, (Jakarta : Pena Pundi Aksara, 2006), hlm. 238

[9]Kementrian Agama RI , Al-Qur’an dan tafsirnya, .....hlm.606

[10] Kementrian Agama RI , Al-Qur’an dan tafsirnya, .....hlm. 609

[11]Muhammad Jamaludin Al qasimi, Bimbingan untuk mencapai tingkat mu’min, .....hlm. 629-630

[12]Moh. Abdai Rathomy,Terjemahan  Mauidhatul Mukminin, (Bandung :TP, 1975)

[13] Sa’id Hawwa,Tazkiyatun nafs, .....hlm 234

[14]Achmad Sunarto, Pandangan Imam Al-Ghazali tentang Takabur dan ‘Ujub, (Jakarta :Pustaka Amani,1988), hlm. 54-55

[15] Achmad Sunarto, Pandangan Imam Al-Ghazali tentang Takabur dan ‘Ujub, .....hlm.57

[16] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar, .....hlm.214

[17] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar,  .....hlm. 214-215

[18] file:///D:/ujub.htm, Kamis, 02 Mei 2013, pkl. 13.56